Tiga Fenomena Dengan Pembahasannya

Tiga fenomena yang kami bahas adalah:

  1. Fenomena Tawuran Antar Pelajar
  2. Kasus Perilaku Pelanggaran Disiplin Siswa di Sekolah
  3. Fenomena Kekerasan di Lembaga Pendidikan

Fenomena 1

Pada artikel ini, diceritakan bahwa perkelahian antar pelajar yang umumnya remaja sangat merugikan baik bagi pelajar maupun orang berada di sekitar lokasi tawuran. Hal ini terjadi hanya karena hal sepele, yaitu dicetaknya gol oleh pemain X yang tidak disenangin 1 suporter yang mendukung tim Y.

Teori Psikologi Pendidikan

Teori konstruktivisme  adalah pendekatan untuk pembelajaran yang menekankan bahwa individu akan belajar dengan baik apabila mereka secara aktif mengkonstruksi pengetahuan dan pemahaman. Supporter yang tidak senang tidak memahami proses ini. Dia tidak senang tim yang dia dukung kalah, sehingga menjadi dendam, Padahal di setiap pertandingan harus ada yang menang dan yang kalah. Dengan kata lain, supporter tidak memahami dengan pasti apa yang harus dan tidak harus dilakukannya.

Teori Pendidikan Keluarga

Berdasarkan teori pendidikan keluarga, supporter mungkin tidak dibina dengan baik dari kecil. Orang tua dalam keluarga harus bisa menciptakan suasana keluarga yang damai dan tentram dan mencurahkan kasih sayang yang penuh terhadap anak-anaknya, meluangkan waktunya untuk sering berkumpul dengan keluarga, mengawasi proses-proses pendidikan anak dan melakukan tugas masing-masing ayah dan ibu. Kurangnya keenam hal ini dapat menyebabkan penyimpangan pada anak, seperti dendam yang dialami supporter tersebut.

Teori Bimbingan sekolah

Salah satu teori gestalt adalah Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Artinya bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Supporter membuat perilaku tawuran agar orang lain dapat mengalah, sehingga tim yang didukung supporter menang.

Fenomena 2

Yang menjadi subjek dalam pembahasan atau analisis permasalahan ini adalah siswa yang sering melakukan pelanggaran disiplin sekolah. Selanjutnya jika dikaji dari data tentang siswa yang sering melakukan pelanggaran sekolah, ternyata dikemukakan bahwa umumnya siswa yang sering membolos sekolah juga melakukan pelanggaran disiplin lain, misalnya sering terlambat datang ke sekolah, meninggalkan kelas atau sekolah sebelum waktunya, suka mengganggu teman, sering melalaikan tugas sekolah, dan berpakaian tidak rapi.

Teori Psikologi Pendidikan

Berdasarkan teori psikologi pendidikan, selain peranan motivasi, manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan belajar murid. Kelas adalah multidimensional, sebuah seting untuk banyak aktivitas. Kurangnya manajemen kelas dapat menyebabkan murid malas belajar, bosan dan melakukan hal-hal lain.

Teori Pendidikan Keluarga

Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan awal bagi anak karena pertama kalinya mereka mengenal dunia terlahir dalam lingkungan keluarga dan dididik oleh orang tua. Sehingga pengalaman masa anak-anak merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan selanjutnya, keteladanan orang tua dalam tindakan sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak, membentuk anak sebagai makhluk sosial, religius, untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuh kembangkan inisiatif dan kreativitas anak. Orang tua yang buruk akan menghasilkan perilaku anak yang buruk pula.

Teori Bimbingan Sekolah

Berdasarkan teori Gestalt, pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) adalah kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang bermakna akan membuat murid tidak cepat bosan, dan tidak melakukan hal lain pada waktu pembelajaran berlangsung.

Fenomena 3

Secara umum, kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang tidak menyenangkan atau merugikan orang lain, baik secara fisik (pemukulan menggunakan tangan atau alat, penamparan, dan tendangan) maupun psikis (mengejek atau menghina, mengintimidasi, menunjukkan sikap atau ekspresi tidak senang, dan tindakan atau ucapan yang melukai perasaan orang lain). Kekerasan tidak hanya berbentuk eksploitasi fisik semata, tetapi justru kekerasan psikislah yang perlu diwaspadai karena akan menimbulkan efek traumatis yang cukup lama bagi si korban. Dewasa ini, tindakan kekerasan dalam pendidikan sering dikenal dengan istilah bullying.

Pada kenyataannya, praktik bullying ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik oleh teman sekelas, kakak kelas ke adik kelas, maupun bahkan seorang guru terhadap muridnya. Terlepas dari alasan apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut dilakukan, tetap saja praktik bullying tidak bisa dibenarkan, terlebih lagi apabila terjadi di lingkungan sekolah.

Teori Psikologi Pendidikan

(Behaviorisme)Teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan. Sedangkan pada kasus diatas, perlakuan yang diberikan oleh senior kepada juniornya, malah merangsang junior belajar untuk melakukan hal yang sama. INi adalah suatu pembelajaran, pembelajaran ke arah negatif karena ia merasa perlakuan ini adalah warisan turun temurun sehingga merupakan perlakuan yang harus dilakukan.

Teori Pendidikan Keluarga

Berdasarkan teori pendidikan keluarga, kekerasan yang dilakukan oleh pelajar pada teman-temannya, juga merupakan suatu perilaku merupakan efek dari lingkungan keluarganya. Perhatian yang kurang dari orang tua juga adalah salah satu faktor yang mengakibatkan pelajaran melakukan hal-hal kasar di lingkungan tempat dia berada, tujuannya untuk menarik perhatian orang sehingga ia akan merasa diperhatikan oleh orang sekitarnya. Selain itu, perlakuan kasar juga dapat berasal dari perlakuan yang ia terima di rumah, sehingga pelajar tersebut merasa bahwa perlakuan kasar merupakan suatu hal yang wajar.

Teori Bimbingan Sekolah

Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Disini, pelajar salah atau gagal menerapkan prinsip insight ini, sehingga anggapan atau persepsi mereka tentang perlakuan kasar tersebut tidak sesuai dengan yang ada dimasyarakat. Seperti yang dilakukan pelajar tersebut, mereka melakukan kekerasan pada temannya, karena mereka telah salah mengaitkan perilaku yang kasar tersebut dengan kondisi saat ia melakukannya.

Kasus:

[link]
http://jurnaljpi.files.wordpress.com/2009/09/vol-4-no-2-heru-sutrisno.pdf

http://renayulia.multiply.com/journal/item/1

Referensi:

Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s